Saluran Deep Learning -GABUNG SEKARANG !

Lembar Monitoring Ramadan untuk Anak, Siap Cetak !

Bulan Ramadhan selalu membawa suasana berbeda di sekolah. Ketika adzan Subuh berkumandang, sebagian siswa sudah bersiap dengan semangat baru. Mereka tahu bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang melatih diri dalam disiplin, ibadah, dan akhlak. Di sinilah peran guru dan sekolah menjadi penting: melakukan monitoring agar setiap siswa benar-benar merasakan makna Ramadhan.

Sejak awal bulan, sekolah telah menyusun program khusus. Wali kelas membagikan buku monitoring Ramadhan yang berisi catatan harian: shalat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, kehadiran tepat waktu, serta sikap dan akhlak. Buku itu bukan sekadar lembaran kertas, melainkan pengingat bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.

Hari pertama terasa penuh antusiasme. Ahmad, salah satu siswa kelas IX, dengan bangga menunjukkan catatan shalat berjamaahnya. “Saya ikut Subuh berjamaah di masjid, Bu,” katanya sambil tersenyum. Sementara itu, Siti masih tampak ragu. Ia hanya menuliskan satu halaman tilawah Qur’an. Guru tidak menegur dengan keras, melainkan memberi motivasi: “Ramadhan adalah latihan. Tidak apa-apa mulai sedikit, yang penting konsisten. Besok coba tambah lagi, ya.”

Monitoring ini bukan sekadar angka atau tanda centang. Guru berusaha melihat lebih dalam: bagaimana siswa membangun kebiasaan baik, bagaimana mereka belajar disiplin, dan bagaimana akhlak mereka tercermin dalam keseharian. Ketika seorang siswa datang terlambat, guru mencatatnya, lalu mengajak berdialog. “Apa yang membuatmu terlambat?” tanya guru. Dari percakapan itu, siswa belajar bahwa disiplin adalah bagian dari ibadah.

Di sela kegiatan belajar, sekolah mengadakan tadarus bersama. Suasana kelas berubah menjadi lebih khusyuk. Suara lantunan ayat-ayat suci bergema, menenangkan hati. Guru mencatat siapa saja yang aktif, siapa yang masih malu-malu. Monitoring ini membantu guru memberi perhatian lebih kepada siswa yang membutuhkan dorongan. Misalnya, Rina yang awalnya jarang membaca Al-Qur’an, perlahan mulai berani ikut tadarus setelah mendapat dukungan teman-temannya.

Selain ibadah, aspek akhlak juga menjadi fokus. Guru mengamati bagaimana siswa berinteraksi. Ketika ada yang berbicara kasar, guru menuliskan catatan kecil: “Perlu bimbingan dalam menjaga lisan.” Sebaliknya, ketika seorang siswa membantu temannya membawa buku, guru memberi apresiasi: “Akhlak baik, suka menolong.” Catatan ini kemudian dibahas bersama di akhir pekan, sehingga siswa menyadari bahwa setiap perilaku mereka diperhatikan.

Monitoring Ramadhan juga mencakup kegiatan sosial. Sekolah mengadakan program berbagi takjil. Siswa diajak berpartisipasi, baik dengan menyumbang maupun membantu membagikan. Guru mencatat siapa yang aktif, siapa yang masih pasif. Dari sini terlihat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga kepedulian terhadap sesama. Banyak siswa yang awalnya enggan, akhirnya merasa senang ketika melihat senyum orang yang menerima takjil.

Seiring berjalannya waktu, monitoring ini mulai menunjukkan hasil. Ahmad semakin rajin tilawah, Siti mulai terbiasa shalat berjamaah, Rina menjadi lebih percaya diri. Guru merasa bangga, bukan karena catatan monitoring penuh tanda centang, tetapi karena melihat perubahan nyata dalam diri siswa. Monitoring menjadi alat refleksi, bukan sekadar kontrol.

Di akhir Ramadhan, sekolah mengadakan evaluasi. Setiap siswa diminta melihat kembali catatan monitoring mereka. Ada yang penuh dengan ✔, ada yang masih banyak kosong. Guru mengajak mereka merenung: “Ramadhan adalah perjalanan. Catatan ini menunjukkan usaha kalian. Jangan berhenti di sini, teruskan kebiasaan baik ini setelah Ramadhan.” Siswa pun menyadari bahwa monitoring bukanlah beban, melainkan cermin yang membantu mereka melihat perkembangan diri.

Cerita Ramadhan di sekolah itu menjadi bukti bahwa monitoring siswa bukan sekadar administrasi. Ia adalah proses mendidik dengan hati, menghubungkan ibadah dengan disiplin, mengaitkan akhlak dengan kehidupan sehari-hari. Guru tidak hanya mencatat, tetapi juga membimbing, memberi motivasi, dan menanamkan nilai. Siswa pun belajar bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk menjadi lebih baik.

Ketika takbir Idul Fitri akhirnya bergema, siswa membawa pulang bukan hanya kemenangan menahan lapar, tetapi juga kebiasaan baru: shalat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, disiplin waktu, dan akhlak mulia. Monitoring Ramadhan telah menjadi jembatan yang menghubungkan teori dengan praktik, niat dengan tindakan, serta guru dengan siswa. Sebuah perjalanan yang akan terus dikenang, dan semoga berlanjut sepanjang hidup mereka.

Posting Komentar

© DEEP LEARNING. All rights reserved. Developed by Jago Desain