Mendidik dan Membina Siswa Kelas 3 pada Mata Pelajaran PAI untuk Menjadi Siswa yang Santun
Pendahuluan
Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah maupun sekolah dasar memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter siswa sejak dini. Pada kelas 3, anak-anak berada pada fase perkembangan moral yang sangat penting: mereka mulai memahami aturan sosial, meniru perilaku orang dewasa, dan belajar membedakan antara benar dan salah. Oleh karena itu, mendidik dan membina siswa agar santun bukan sekadar mengajarkan teori agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
1. Hakikat Kesantunan dalam PAI
Kesantunan adalah wujud nyata dari akhlak mulia. Dalam perspektif Islam, santun berarti:
• Menghormati orang tua dan guru dengan sikap sopan, mendengarkan nasihat, dan tidak membantah.
• Berbicara dengan baik tanpa kata kasar, serta menggunakan bahasa yang ramah.
• Menghargai teman sebaya dengan tidak mengejek, saling membantu, dan menjaga persahabatan.
• Menjaga adab dalam ibadah seperti berdoa dengan khusyuk, membaca Al-Qur’an dengan tartil, dan melaksanakan salat dengan tertib.
Kesantunan bukan hanya etika sosial, tetapi juga bagian dari ibadah. Rasulullah SAW menekankan bahwa orang beriman yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya.
2. Strategi Pembinaan Kesantunan di Kelas 3
Untuk menanamkan nilai santun, guru PAI perlu mengintegrasikan pendekatan pedagogis, psikologis, dan spiritual. Beberapa strategi yang relevan:
• Keteladanan Guru
Guru adalah model utama bagi siswa. Sikap guru yang ramah, sabar, dan penuh kasih akan ditiru oleh anak-anak. Ketika guru menyapa dengan senyum, menggunakan bahasa sopan, dan menghargai setiap siswa, maka anak-anak belajar kesantunan secara alami.
• Pembiasaan Harian
Membiasakan salam ketika masuk kelas, berdoa sebelum dan sesudah belajar, serta mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan adalah bentuk latihan kesantunan yang sederhana namun efektif.
• Integrasi Nilai dalam Materi PAI
Misalnya, saat mengajarkan kisah Nabi Muhammad SAW, guru menekankan bagaimana beliau bersikap santun kepada sahabat dan musuh sekalipun. Cerita-cerita teladan ini dapat menginspirasi siswa untuk meniru perilaku mulia.
• Metode Role Play dan Simulasi
Anak-anak kelas 3 senang bermain peran. Guru dapat membuat simulasi seperti “cara berbicara sopan kepada guru” atau “cara meminta maaf kepada teman.” Dengan praktik langsung, siswa lebih mudah memahami dan menginternalisasi nilai santun.
• Penguatan Melalui Apresiasi
Memberikan pujian sederhana seperti “Bagus sekali kamu sudah mengucapkan terima kasih” akan memperkuat perilaku santun. Apresiasi membuat siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk terus berperilaku baik.
3. Tantangan dalam Membina Kesantunan
Meskipun konsepnya jelas, praktik mendidik kesantunan tidak selalu mudah. Beberapa tantangan yang sering muncul:
• Pengaruh lingkungan luar seperti media sosial, tontonan televisi, atau pergaulan yang kurang baik dapat memengaruhi sikap anak.
• Kurangnya dukungan keluarga; jika di rumah anak terbiasa melihat orang tua berbicara kasar, maka pembinaan di sekolah menjadi kurang efektif.
• Perbedaan karakter siswa; ada anak yang cepat meniru perilaku santun, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.
Menghadapi tantangan ini, guru PAI perlu bekerja sama dengan orang tua dan lingkungan sekolah secara holistik.
4. Peran Kolaborasi Guru, Orang Tua, dan Lingkungan
Kesantunan tidak bisa dibentuk hanya di ruang kelas. Perlu sinergi antara guru, orang tua, dan lingkungan sekitar:
• Guru menanamkan nilai melalui pembelajaran dan teladan.
• Orang tua memperkuat di rumah dengan membiasakan anak berbicara sopan, menghormati orang tua, dan menjaga adab.
• Lingkungan sekolah mendukung dengan budaya positif, misalnya adanya aturan salam, larangan berkata kasar, dan kegiatan keagamaan bersama.
Dengan kolaborasi ini, siswa akan terbiasa bersikap santun di berbagai situasi, bukan hanya saat pelajaran PAI berlangsung.
5. Dampak Kesantunan bagi Perkembangan Anak
Jika pembinaan kesantunan dilakukan secara konsisten, dampaknya sangat besar:
• Meningkatkan kualitas hubungan sosial; anak lebih mudah diterima oleh teman sebaya karena sikap ramah dan sopan.
• Membentuk karakter Islami; kesantunan menjadi bagian dari iman dan ibadah.
• Mencegah konflik; anak yang santun cenderung menghindari pertengkaran dan lebih suka berdialog.
• Menjadi bekal masa depan; kesantunan adalah modal penting untuk menghadapi kehidupan sosial, akademik, maupun profesional di masa mendatang.
Kesimpulan
Mendidik dan membina siswa kelas 3 pada mata pelajaran PAI agar menjadi santun adalah proses multidimensional yang menuntut keteladanan guru, pembiasaan harian, integrasi nilai dalam materi, serta kolaborasi dengan orang tua dan lingkungan. Kesantunan bukan sekadar etika, melainkan manifestasi iman yang harus ditanamkan sejak dini. Dengan pembinaan yang konsisten, siswa tidak hanya memahami ajaran agama secara kognitif, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai akhlak dalam perilaku nyata.
Perangkat Deep Learning PAI Kelas 3 Lengkap :
- Alat Tujuan Pembelajaran (ATP)
- Tujuan Pembelajaran
- Analisa Alokasi Waktu
- Buku Penggerak IKM
- Capaian Pembelajaran
- Jadwal Pelajaran
- Jurnal Harian
- KKTP
- Modul Ajar - Semester 1
- Modul Ajar - Semester 2
- Penilaian Harian
- Program Semester (PROMES)
- Program Tahunan (PROTA)
- Soal-Soal Latihan
