Semester genap baru saja berjalan dua bulan di SD Harapan Bangsa. Suasana sekolah terasa berbeda, karena minggu ini adalah jadwal Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS). ASTS menjadi momen penting bagi guru dan siswa, sebab hasilnya akan menjadi gambaran pencapaian belajar selama setengah semester.
Sejak awal pekan, para guru sudah sibuk menyiapkan soal. Bu Rina, guru kelas IV, terlihat serius di ruang guru. Ia memeriksa kembali kisi-kisi soal Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA. “Soal harus sesuai indikator, tidak boleh terlalu mudah, tapi juga jangan membuat anak-anak putus asa,” ujarnya sambil menandai beberapa butir soal. Guru lain, Pak Andi, menambahkan, “ASTS bukan sekadar angka, tapi kesempatan untuk melihat sejauh mana anak-anak memahami materi.”
Di kelas, para siswa juga merasakan atmosfer berbeda. Dina, salah satu murid yang rajin, sudah menyiapkan buku catatan kecil berisi rangkuman materi. Ia membacanya setiap pagi sebelum bel masuk. Sementara itu, Rafi tampak gelisah. Ia lebih suka bermain bola daripada belajar, sehingga ASTS membuatnya sedikit cemas. Namun, Bu Rina selalu mengingatkan, “ASTS bukan untuk menakut-nakuti. Anggap saja ini kesempatan menunjukkan apa yang sudah kalian pelajari.”
Hari pertama ASTS pun tiba. Mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika. Anak-anak duduk rapi di bangku masing-masing. Suasana kelas hening, hanya terdengar suara kertas yang dibalik. Dina dengan tenang mengerjakan soal penjumlahan dan pecahan. Rafi sempat bingung dengan soal luas bangun datar, tetapi ia mencoba mengingat penjelasan Bu Rina tentang rumus panjang kali lebar.
Setelah 90 menit, bel berbunyi. Anak-anak menghela napas lega. “Wah, ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan,” kata Rafi sambil tersenyum. Dina menimpali, “Kalau belajar sedikit demi sedikit, pasti bisa.”
Hari kedua, giliran Bahasa Indonesia. Guru memberikan teks bacaan sederhana, lalu siswa diminta menjawab pertanyaan. Dina dengan cepat menemukan jawaban, sementara Rafi berusaha memahami arti kata “rapi” dalam teks. Ia sempat ragu, tetapi akhirnya memilih jawaban yang benar. Bu Rina yang mengawasi tersenyum melihat usaha anak-anak.
Hari ketiga, ujian IPA berlangsung. Soal tentang tumbuhan, hewan, dan energi matahari membuat anak-anak antusias. Dina menulis dengan mantap bahwa akar berfungsi menyerap air dan mineral. Rafi, yang suka bermain di luar rumah, langsung teringat bagaimana matahari membantu mengeringkan pakaian ibunya. Ia menuliskan jawaban dengan penuh keyakinan.
Selama seminggu ASTS, sekolah terasa lebih tenang. Tidak ada kegiatan ekstrakurikuler, semua fokus pada ujian. Guru-guru bergantian mengawasi kelas, memastikan suasana kondusif. Kepala sekolah, Bu Sari, berkeliling memantau. “ASTS harus berjalan jujur dan tertib. Anak-anak harus belajar bertanggung jawab atas pekerjaannya,” katanya.
Setelah ujian selesai, suasana kembali ceria. Anak-anak berlarian di halaman, melepaskan ketegangan. Dina merasa puas karena bisa mengerjakan soal dengan baik. Rafi pun merasa lega, meski ia tahu ada beberapa soal yang sulit. “Yang penting aku sudah berusaha,” ujarnya.
Seminggu kemudian, hasil ASTS dibagikan. Dina memperoleh nilai tinggi, sesuai dengan usahanya. Rafi mendapat nilai cukup, tetapi ia bangga karena ada peningkatan dibanding semester lalu. Bu Rina memanggil mereka satu per satu, memberikan apresiasi. “Dina, terus pertahankan semangat belajarmu. Rafi, saya senang kamu sudah lebih serius. Jangan berhenti berusaha.”
ASTS di SD Harapan Bangsa bukan hanya tentang angka di rapor. Lebih dari itu, ia menjadi cermin proses belajar, kerja keras, dan kejujuran. Guru belajar memahami kebutuhan siswa, siswa belajar menghadapi tantangan, dan sekolah belajar menjaga kualitas pendidikan.
Bagi Dina, ASTS adalah kesempatan menunjukkan hasil kerja keras. Bagi Rafi, ASTS adalah pelajaran tentang pentingnya persiapan. Bagi guru, ASTS adalah alat untuk mengevaluasi pembelajaran. Dan bagi sekolah, ASTS adalah bagian dari perjalanan panjang menuju pendidikan yang lebih baik.
Dengan berakhirnya ASTS, anak-anak kembali ke rutinitas belajar. Namun, pengalaman selama seminggu itu meninggalkan kesan mendalam. Mereka belajar bahwa ujian bukanlah momok, melainkan kesempatan untuk tumbuh. Seperti kata Bu Sari saat menutup rapat guru, “ASTS adalah langkah kecil menuju masa depan besar anak-anak kita.”
Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS) SD Semester Genap
Kelas 1 :
Lihat juga :
%20SD%20Semester%20Genap.jpg)